Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 12 April 2016

Artikel Spiritual Question



 IQ vs EQ
whose the Winner ?




                 Mahasiswa  pada era digital tentu berbeda dengan mahasiswa lima atau sepuluh tahun yang lalu, dimana salah satu perbedaan tersebut ialah perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan. Mahasiswa dituntut untuk menguasai dan berinovasi seiring  perkembangan dua hal tadi, hingga dalam level tertentu dalam penguasaannya seseoranga mendapatkan gelar sesuai dengan bidang penguasaan yang mereka geluti.

Era ini  memaksa mahasiswa untuk lebih efektif dalam hal manajemen waktu yang berkaitan dengan etos kerja agar kegiatan  yang dapat dilakukan dapat dikalkulasikan kapan selesainya. Dampak dari itu semua, tumbuhlah seorang mahasiswa yang tingkat IQ (Intelegence Question) yang mapan yang sangat dibutuhkan dunia kerja. Namun pertanyaannya sekarang apakah itu semuanya cukup untuk hidup, apakah dengan memiliki kemampuan IQ yang tinggi seseorang dapat dengan lenggang meraih pekerjaan yang mereka sukai. 

 Tentu saja tidak semua. Masih ada kemampuan yang mesti harus disadari dan  coba untuk diasah. Apa itu ?

Minggu, 10 April 2016

Inspirasi dari Film Pendidikan










  The Teacher’s Diary ”
Sebuah film pendidikan yang membangkitkan motivasi, membuat kita bersukur, dan semangat mengajar maupun diajar ditengah kekurangan fasilitas dan kurangnya perhatian terhadap pentingnya pendidikan. Bermula dari seorang guru yang agak sedikit tomboi dan memiliki tatoo yang tidak mau ia hapus karena harus mengajar di sekolah elit dengan ketatnya peraturan yang ada. Dia melamar sebagai tenaga pengajar di sebuah sekolah pelosok di negara Thailand.  
Dan petualang dengan dunia baru, dimulai disini ...

Selasa, 22 Maret 2016

JAKARTA – Menikmati pendidikan bermutu tentu menjadi dambaan setiap pelajar, termasuk bagi orangtua siswa. Sayangnya, tak semua fasilitas pendukung pendidikan di setiap sekolah sama. Ada yang fasilitasnya sangat lengkap, namun tak sedikit sekolah yang baik dari segi bangunan maupun infrastrukturnya belum memadai.
Sudah menjadi rahasia umum bila sekolah dengan berbagai fasilitas biasanya mematok sumbangan pembinaan pendidikan (SPP) yang mahal. Hal tersebut membuat siswa yang sekolah di sana berasal dari kalangan menengah ke atas. Atas fenomena tersebut, seorang orangtua siswa SMA di Kota Bogor, Wulan, menceritakan, tak menampik jika biaya sekolah saat ini semakin mahal. Namun, demi memperoleh pendidikan berkualitas bagi anaknya, dia pun rela merogoh kocek lebih dalam, termasuk untuk menunjang segala kebutuhan sekolah anaknya.
"Sama-sama sekolah negeri, dulu waktu kakaknya masih Rp150 ribu per bulan, sekarang sekira empat tahun kemudian sudah Rp340 ribu per bulan. Buat saya sebenarnya cukup mahal, tapi ternyata banyak yang lebih mahal," tuturnya saat berbincang dengan Okezone, belum lama ini.
Ibu dua anak ini mengungkapkan, biaya bulanan tersebut belum termasuk kebutuhan sekolah lainnya, seperti fotokopi bahan pelajaran, prakarya, dan lain sebagainya. Menurutnya, pihak sekolah juga tak merincikan untuk apa saja uang tersebut, namun dia sendiri tak terlalu ambil pusing dan hanya mengikuti aturan main sekolah.
"Yang saya tahu untuk biaya komputer, kemudian tabungan perpisahan. Seandainya ada fasilitas di kelas itu AC dan Wifi," ucapnya.
Biaya sekolah mahal, tutur Wulan, kadang kala juga menjadi ajang adu prestise di kalangan orangtua siswa. Kebanyakan orangtua berpikir semakin mahal sekolah, maka kualitas pendidikannya semakin baik. Belum lagi ditambah orangtua yang berlomba-lomba memasukkan anaknya ke berbagai kursus atau bimbingan belajar.
"Kalau saya menganggap sekolah itu kualitasnya rata-rata hampir sama, apalagi kalau negeri. Semua tergantung anaknya pintar atau enggak di sekolah. Tapi ya sebagai orangtua tentu berusaha untuk memberikan yang terbaik untuk anak, baik dari segi bangunan, fasilitas, sampai akses sekolahnya dekat atau tidak dari rumah. Supaya anak juga nyaman," pungkasnya. (ira)
(rfa)
sumber : http://news.okezone.com/read/2016/03/15/65/1336669/sekolah-mahal-dan-prestise-orangtua
jurnalis : Iradhatie Wurinanda

Senin, 21 Maret 2016

JAKARTA - Masalah dalam dunia pendidikan tidak hanya soal kualitas. Hal lain yang juga perlu dicermati adalah kesenjangan gender.
Misalnya, pada jenjang Sekolah Dasar (SD), kebanyakan pelajar adalah laki-laki. Sementara di jenjang SMA justru lebih banyak yaitu pelajar perempuan.
Kepala Biro Perencanaan Kerjasama Luar Negeri, Kemdikbud Suharti menuturkan, anak laki-laki mulai tidak menyukai sekolah. "Data menunjukkan, bukan hanya tidak senang pada sekolah, namun juga pada opportunity cost. Jadi anak laki-laki di jenjang lebih tinggi yang sudah bisa bekerja, lebih memilih bekerja. Hal itu karena ekonomi," ungkap Suharti di Kemdikbud, Jakarta, Rabu (16/3/2016).
Dia mengimbuhkan, anak-anak yang lahir dari keluarga kurang mampu biasanya didorong untuk bisa mencari nafkah daripada mengejar pendidikan setinggi-tingginya.
Sementara pada sisi pendidik, guru perempuan jauh lebih banyak dibandingkan dengan guru laki-laki. Namun jumlah kepala sekolah perempuan justru masih sedikit.
"Sayangnya dari hasil UKG, performa guru perempuan jauh lebih rendah dari guru laki-laki. Performa guru perempuan terlihat baik pada awal usia 30-an. Namun di atas 30-an performa mereka akan menurun karena merasa sudah aman, sehingga keinginan untuk meningkatkan kualitas menurun," ujarnya.
Suharti juga menambahkan, fasilitas di lingkungan sekolah juga seharusnya memperhatikan gender. Misalnya, pada tangga sekolah, perlu diperhatikan seberapa tinggi tangga itu agar bisa dicapai oleh siswa perempuan.
"Lalu juga meja, dulu di depan meja itu diberi papan supaya anak laki-laki tidak iseng pada siswi yang menggunakan rok. Kemudian lemari buku, bagaimana lemari itu juga bisa dijangkau oleh siswi karena mereka jauh lebih pendek dari laki-laki," tambahnya.
(rfa)
sumber : http://news.okezone.com
jurnalis :Afriani Susanti

Rabu, 27 Mei 2015

Skandal nyontek masal di India, Polisi tangkap 1000 orang.

Skandal nyontek masal di India, Polisi tangkap 1000 orang.

Foto yang beredar luas di berbagai media membuat Pemerintah India bertindak tegas
Foto-foto yang beredar luas di berbagai media membuat Pemerintah India bertindak tegas
Kepolisian India menahan lebih dari 1.000 orang di negara bagian Bihar, terkait skandal menyontek massal dalam ujian semester di sekolah-sekolah wilayah tersebut.
Pekan lalu, sejumlah stasiun televisi India menayangkan ratusan orang memanjat dinding sebuah sekolah berlantai empat hanya untuk memberikan contekan kepada para siswa yang tengah menjalani ujian. Salah satu tayangan televisi setempat memperlihatkan para staf sekolah dan polisi yang hanya diam berdiri ketika ratusan orang itu menyelundupkan bahan contekan ke dalam kelas-kelas.
Kepala Kepolisian Bihar Gupteshwar Pandey mengatakan, lebih dari 1.000 orang ditahan terkait skandal ini, tetapi belum satu pun yang dijerat dengan tuduhan melakukan tindakan kriminal. Orang-orang yang ditahan itu hanya dihukum denda paling sedikit 2.000 rupee atau sekitar Rp 400.000, tergantung keterlibatan mereka dalam skandal mencontek massal itu.
Pandey menambahkan, dari 1.000 orang yang ditahan tersebut, sebagian adalah para orangtua dan kerabat dari siswa yang tengah menjalani ujian.
“Lebih dari 1.000 orang ditahan. Separuhnya adalah orangtua dan guru. Separuh lainnya adalah kawan dan kerabat siswa,” ujar Pandey.
Sejauh ini, lanjut Pandey, sekitar separuh dari mereka yang ditahan sudah membayar denda dan dibebaskan dari tahanan. “Kami tak memperlakukan mereka sebagai penjahat profesional. Itulah sebabnya kami membebaskan mereka. Tujuan kami adalah membuat mereka sadar telah melakukan pelanggaran serius,” tambahnya.
Pandey menambahkan, dua polisi juga ditahan, dan 10 lainnya dibebastugaskan karena dinilai terlibat dalam skandal memalukan itu.
Foto-foto aksi mencontek massal yang tersebar cepat lewat Twitter dan media sosial lainnya tersebut menjadi berita utama media-media nasional India. Itulah sebabnya, Menteri Utama Bihar Nitish Kumar langsung mengambil tindakan.
“Laporan soal skandal mencontek massal membuat nama Bihar jelek. Saya sudah mengeluarkan perintah untuk menghentikan aksi memalukan di tengah ujian yang sedang berlangsung saat ini,” kata Kumar, seperti dikutip kantor berita Press Trust of India(PTI).
Ini bukan kali pertama mencontek massal terjadi di Bihar. Pada 2013, sedikitnya 1.600 siswa didiskualifikasi dari ujian setelah video dan foto serupa muncul serta menyebar luas.

sumber: https://tabloidsergap.wordpress.com

Copyright © 2009 Secarik Kertas All rights reserved. Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive.